Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Materi. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 November 2008

fotometri 01

Fotometri adalah bagian dari astrofisika yang mempelajari kuantitas, kualitas dan arah pancaran radiasi elektromagnetik dari benda langit. Penggunaan kata ‘foto’ yang berarti ‘cahaya’ disebabkan pada awalnya pengamatan benda langit hanya terbatas pada panjang gelombang visual/optik.

Fotometri didasarkan pada pemahaman atas hukum pancaran (radiation law). Kita menghipotesakan bahwa benda langit diangggap memiliki sifat sebuah benda hitam (black body).

Sifat benda hitam antara lain :

1) pada kesetimbangan termal, temperatur benda hanya ditentukan oleh jumlah energi yang diserapnya per detik;

2) benda hitam tidak memancarkan radiasi pada seluruh gelombang elektromagnetik dengan intensitas yang sama (ada yang dominan meradiasikan gelombang elektromagnetik pada daerah biru dengan intensitas yang lebih besar dibandingkan gelombang elektromagnetik pada panjang gelombang lainnya. Konsekuensinya, benda tersebut akan nampak biru).

Panjang gelombang yang dipancarkan dengan intensitas maksimum (λmaks) oleh sebuah benda hitam dengan temperatur T Kelvin adalah :

λmaks = 0,2898/ T .......................... (pers. 1)

(λmaks dinyatakan dalam cm dan T dalam Kelvin)

Persamaan di atas disebut dengan Hukum Wien.
Contoh penggunaan hukum Wien :


(Warning : Yang perlu diperhatikan bahwa λmaks bukan berarti panjang gelombang maksimum tetapi panjang gelombang yang dipancarkan dengan intensitas maksimum)

Jumlah energi per satuan waktu yang dipancarkan sebuah benda hitam per satuan luas permukaan pemancar (benda hitam) disebut fluks energi yang dipancarkan. Besarnya fluks energi yang dipancarkan sebuah benda hitam (F) dengan temperatur T Kelvin adalah :

F = σT4 .......................... (pers. 2)

(σ : konstanta Stefan-Boltzman : 5,67 x 10^-8 Watt/m2K4)

Sedangkan total energi per waktu / daya yang dipancarkan sebuah benda hitam dengan luas permukaan pemancar A dan temperatur T Kelvin disebut dengan Luminositas. Besarnya luminositas (L) dihitung dengan persamaan :

L = A σT4 .......................... (pers. 3)

Untuk bintang, bintang dianggap berbentuk bola sempurna sehingga luas pemancar radiasinya (A) adalah 4πR2 ; dengan R menyatakan radius bintang. Jadi, luminositas bintang (L) adalah :

L = 4πR2 σT4 .......................... (pers. 4)

Benda hitam memancarkan radiasinya ke segala arah. Kita bisa menganggap pancaran radiasi tersebut menembus permukaan berbentuk bola dengan radius d dengan fluks energi yang sama, yaitu E. Besarnya E :

E = L/(4πd2) .......................... (pers. 5)

Fluks energi inilah yang diterima oleh pengamat dari bintang yang berada pada jarak d dari pengamat. Oleh karena itu, fluks energi ini sering disebut fluks energi yang diterima pengamat. (Warning : bedakan antara besaran E dan F).
Persamaan ini disebut juga hukum kuadrat kebalikan (invers square law) untuk kecerlangan (brightness, E) karena persamaan ini menyatakan bahwa kecerlangan (E) berbanding terbalik dengan kuadrat jaraknya (d). Jadi, makin jauh sebuah bintang, makin redup cahayanya.


Latihan:
Dari hasil pengukuran diperoleh bahwa permukaan seluas 1 cm2 di luar atmosfer bumi menerima energi yang berasal dari Matahari sebesar 1,37 x 106 erg/cm2/s. Apabila diketahui jarak Bumi-Matahari adalah 150 juta kilometer, tentukanlah luminositas Matahari.
Bumi menerima energi dari Matahari sebesar 1380 Watt/m2. Berapakah energi dari Matahari yang diterima oleh planet Saturnus, jika jarak Matahari-Saturnus adalah 9,5 AU?
Luminositas sebuah bintang 100 kali lebih terang daripada Matahari, tetapi temperaturnya hanya setengahnya dari temperatur Matahari. Berapakah radius bintang tersebut dinyatakan dalam radius Matahari ?

Galaksi 3

Masih seputar galaksi. Bagian
dalam sebuah galaksi berputar
seperti sebuah benda tegar.
Tetapi bagian luar akan mirip
dengan planet-planet yang
berputar di sekeliling matahari
(sesuai dengan hukum Kepler
ketiga). Bagian ini berputar
dengan kecepatan yang lebih
kecil. Lengan-lengannya
cenderung untuk melilit pusat
galaksi dalam spiral yang
semakin ketat. Gas dan debu
akan terkumpul pada daerah-
daerah lengan spiral yang
memiliki kerapatan yang lebih
besar. Akibatnya, daerah-
daerah ini akan menjadi tempat
pembentukan bintang-bintang
muda, terang, dan panas.
Bintang-bintang yang
membentuk pola lengan-lengan
spiral sebuah galaksi. Bintang-
bintang ini hanya bersinar
selama kira-kira sepuluh juta
tahun, hanya sekitar 5% dari
periode rotasi sebuah galaksi.
Tetapi apabila sebuah bintang
yang ada di sebuah lengan
spiral mati, bintang-bintang
baru dan awan-awan yang
berhubungan dengannya
terbentuk lagi, sehingga pola-
pola lengan spiral tetap
bertahan. Bintang-bintang yang
membentuk lengan spiral sebuah
galaksi tidak bertahan sampai
satu rotasi, tetapi pola-pola
lengan spiralnya tetap ada.
Kecepatan bintang dalam
mengelilingi pusat galaksi tidak
sama dengan kecepatan lengan-
lengan spiralnya. Matahari
sudah sekitar 20 kali keluar
masuk lengan-lengan spiral
selama rotasinya mengelilingi
pusat galaksi Bimasakti dengan
kecepatan 200 km/detik. Rata-
rata matahari dan planet-
planet berada dalam sebuah
lengan spiral selama 40 juta
tahun, kemudian berada di
luarnya selama 80 juta tahun,
40 juta tahun lagi di dalamnya,
demikian seterusnya. Lengan-
lengan spiral merupakan tempat
bintang-bintang yang baru
dilahirkan. Tetapi tidak selalu
merupakan tempat kelahiran
bintang-bintang setengah umur
seperti matahari kita. Pada saat
ini kita sedang berada di antara
lengan-lengan spiral.
Lewatnya tata surya di antara
lengan-lengan spiral secara
periodik mungkin memiliki
pengaruh yang penting bagi
kita. Kira-kira sepuluh juta
tahun yang lalu, matahari
keluar dari daerah sabuk Gould
dari lengan spiral Orion yang
sekarang jaraknya kurang dari
1000 tahun cahaya. (Yang
berada di sebelah dalam lengan
Orion adalah lengan Sagitarius,
dan di sebelah luarnya adalah
lengan Perseus). Saat matahari
melewati sebuah lengan spiral,
maka mungkin sekali kita
memasuki sebuah nebula gas
dan awan debu antar bintang
dan bertemu dengan objek-
objek yang massanya kurang
dari massa sebuah bintang.
Diduga jaman es besar yang
dialami planet kita, yang terjadi
kira-kira setiap 100 juta tahun
adalah akibat adanya materi-
materi antarbintang yang
berada di antara bumi dan
matahari, sehingga menghalangi
sinar matahari yang datang ke
bumi.
Kemungkinan sejumlah bulan,
komet, asteroid, dan cincin-
cincin yang mengelilingi planet-
planet di tata surya, dahulu
bergerak bebas di ruang antar
bintang sampai mereka
terperangkap dalam daerah
tata surya saat matahari
memasuki lengan spiral Orion (W.
Napier & S. Clube). Ini adalah
gagasan yang menarik,
meskipun kemungkinannya tidak
terlalu besar. Tetapi gagasan ini
bisa diuji. Yang perlu kita
lakukan hanyalah mengambil
beberapa contoh bahan dari
sebuah komet, dan meneliti
kandungan isotop
magnesiumnya. Kelimpahan
relatif berbagai isotop
magnesium (semuanya
mengandung proton dalam
jumlah yang sama, tetapi
netronnya berbeda)
bergantung pada urutannya
pada rangkaian reaksi
pembentukan inti-inti berat di
bintang. Urutan ini termasuk
juga saat terjadinya ledakan
supernova di dekat bintang. Di
daerah galaksi yang berbeda,
urutan peristiwa yang berbeda
akan berlangsung, dan
menghasilkan kelimpahan relatif
isotop magnesium yang berbeda
pula. Saat ini, wahana antariksa
Stardust (AS) telah dikirimkan
dengan misi untuk mengambil
sampel partikel dari komet Wild 2
dan mengembalikannya ke bumi
kelak pada Januari 2006.
Diharapkan dari sampel yang
diperoleh, kita dapat
mengkonfirmasi kebenaran teori
ini.

Galaksi 2

Tipe galaksi berikutnya adalah
galaksi eliptik. Galaksi dari tipe
ini berwujud sebuah struktur
berbentuk bola yang
beranggotakan milyaran bintang
yang menyerupai kelompok
globular dalam skala raksasa.
Struktur internalnya sangat
kecil, dengan densitas bintang-
bintang yang membentuk
galaksi berkurang secara
gradual, mulai dari bagian
intinya yang rapat hingga
bagian pinggir yang menyebar.
Galaksi-galaksi eliptik memiliki
tingkat kelonjongan yang
beragam. Tipe galaksi ini
biasanya hanya memiliki sangat
sedikit gas dan debu antar-
bintang, dan tidak memiliki
populasi bintang muda (walapun
ada beberapa perkecualian
untuk ciri ini).
Astronom Edwin Hubble semula
menggolongkan galaksi eliptik
sebagai galaksi tahap-awal yang
akhirnya akan berevolusi
menjadi galaksi spiral (yang
disebutnya galaksi tahap-akhir).
Astronom masa kini telah
menyadari bahwa kenyataan
yang sebenarnya justeru
berkebalikan dari hipotesis
Hubble tersebut, namun
pelabelan yang dirintisnya itu
masih digunakan hingga kini.
Semula diduga bahwa galaksi
eliptik adalah bentuk galaksi
yang sederhana, namun
belakangan ternyata diketahui
merupakan objek yang cukup
kompleks. Kompleksitas ini bisa
dirunut dari asal-usul
pembentukannya. Galaksi eliptik
dipercaya merupakan produk
dari bergabungnya dua atau
lebih galaksi spiral menjadi satu
galaksi tunggal.
Galaksi-galaksi eliptik yang ada
memiliki rentang ukuran dan
kecerlangan yang sangat
beragam, mulai dari yang
berbentuk elips raksasa
bergaris tengah ratusan ribu
tahun cahaya, dengan
kecerlangan hampir satu triliun
kali kecerlangan matahari,
hingga Eliptik kerdil yang
kecerlangannya hanya sedikit
lebih besar dari rata-rata
kelompok globular biasa. Secara
morfologis, galaksi eliptik dapat
digolongkan menjadi beberapa
kelas:
cD galaxies
Galaksi yang sangat besar dan
cemerlang, dengan ukuran
mendekati 1 Megaparsek (3
milyar tahun cahaya) pada
diameternya. Objek raksasa ini
biasanya hanya ditemui di dekat
pusat kluster galaksi yang
besar dan padat. Golongan ini
nampaknya merupakan hasil
penggabungan dari banyak
galaksi.
Normal elliptical galaxies
Objek-objek terpadat dengan
kecerlangan permukaan relatif
tinggi. Termasuk dalam golongan
ini adalah galaksi eliptik raksasa
(giant ellipticals, gE), galksi
eliptik dengan kecerlangan
menengah (intermediate-
luminosity ellipticals, E), dan
galaksi eliptik kompak (compact
ellipticals).
Dwarf elliptical galaxies (dE)
Pada dasarnya, kelas galaksi ini
berbeda dengan galaksi eliptik
normal. Diameternya berkisar
antra 1 hingga 10 kiloparsek
dengan kecerlangan permukaan
yang lebih rendah dari galaksi
eliptik normal, membuatnya
kelihatan menyebar.
Penampakannya menunjukkan
karakteristik yang sama seperti
karakteristik persebaran
bintang pada galaksi, mulai dari
bagian inti yang padat dan
terus merenggang secara
gradual ke arah pinggir.
Dwarf speroidal galaxies
(dSph)
Galaksi dari kelas ini memiliki
luminositas yang sangat rendah
dengan tingkat kecerlangan
permukaan yang juga rendah.
Karenanya galaksi yang bisa
diamati dari kelas ini hanyalah
yang posisinya dekat dengan
galaksi kita atau di kelompok-
kelompok galaksi terdekat
seperti halnya kelompok Leo.
Magnitudo absolutnya hanya
berkisar -8 hingga -15 mag.
Salah satu galaksi dari jenis ini
yang disebut Draco hanya
memiliki magnitudo absolut
sebesar -8,6, membuatnya lebih
redup dari rata-rata kelompok
globular di galaksi Bimasakti.
Blue compact dwarf
galaxies (BCD)
Galaksi kecil yang biasanya
nampak berwarna kebiruan.
Pengukuran warna fotometrik
dengan filter cahaya biru (B-V)
menunjukkan besaran antara 0,0
hingga 0,30 mag, yang
merupakan tipikal bintang yang
relatif muda dari tipe spektral
A. Ini menunjukkan bahwa BCD
dalam keadaan aktif membentuk
bintang-bintang. Tidak seperti
galaksi elips lainnya, sistem ini
kaya akan kandungan gas
antar-bintang.

Galaksi 1

Galaksi Bimasakti, dimana Bumi,
Matahari, dan seluruh bintang
yang terlihat di langit malam
berada, adalah sebuah galaksi
spiral, atau lebih tepatnya,
galaksi spiral berpalang. Dalam
bahasa Inggris, galaksi ini
disebut sebagai "Milky Way",
mengacu pada suatu gugusan
bintang yang sangat redup dan
rapat hingga terlihat dengan
mata telanjang sebagai sebuah
pita cahaya yang samar saat
langit cerah. Itu sebenarnya
adalah cakram galaksi yang
terlihat dari sudut pandang kita
didalamnya.
Galaksi spiral adalah kumpulan
dari milyaran bintang yang
membentuk cakram, dengan
pusatnya yang berbentuk
tonjolan yang bersinar terang.
Dalam cakram galaksi biasanya
terdapat "lengan" yang sangat
cemerlang, dimana bisa ditemui
bintang-bintang yang paling
terang. Lengan-lengan ini
menjulur dari pusat galaksi,
sehingga membentuk sebuah
piringan spiral raksasa.
Galaksi-galaksi diklasifikasikan
menggunakan apa yang disebut
sebagai "tuning fork diagram"
(diagram garpu tala). Ujung dari
"garpu" membagi galaksi eliptik,
mulai dari yang paling bulat,
yang diklasifikasikan dalam
kelompok E7. Sementara itu,
bagian "gigi garpu" adalah
dimana dua tipe dari galaksi
spiral ditempatkan: spiral normal
dan spiral "berpalang". Galaksi
spiral berpalang adalah galaksi
yang memiliki sekelompok
bintang pusat yang terentang
membentuk sebuah garis dari
mana lengan spiral galaksi
menjulur.
Kedua jenis galaksi spiral ini
diklasifikasikan lagi berdasarkan
bentuk tonjolan pada intinya,
rata-rata kecerlangan
permukaannya, dan kerapatan
lengan spiralnya. Semua
karakteristik tersebut saling
berhubungan satu sama lain,
dengan demikian galaksi tipe Sa
memiliki tonjolan inti yang besar,
permukaan yang lebih
cemerlang, dan lengan spiral
yang rapat. Sementara itu,
galaksi tipe Sb memiliki tonjolan
inti yang lebih kecil, cakram
yang lebih redup, dan lengan
spiral yang renggang dari Sa.
Demikian seterusnya pada tipe
Sc dan Sd. Galaksi spiral
berpalang menggunakan skema
klasifikasi yang sama, yang
ditandai oleh tipe SBa, SBb, SBc,
dan SBd.
Ada pula galaksi yang
dikelompokkan dalam kelas S0,
yang secara morfologis (dilihat
dari proses terbentuknya)
merupakan tipe transisi dari
galaksi spiral dan eliptik. Lengan
spiralnya demikian tipis sehingga
tidak terlihat jelas. Galaksi tipe
S0 memiliki cakram dengan
kecerlangan yang seragam
dengan tonjolan inti yang
sangat dominan.
Galaksi spiral adalah suatu
kesatuan yang sangat dinamis.
Ia adalah sekumpulan formasi
bintang yang berisi banyak
bintang dalam cakramnya.
Pusatnya yang menonjol terdiri
dari bintang-bintang yang lebih
tua, dan lingkaran cahaya yang
menyebar pada inti galaksi
terdiri bintang-bintang yang
paling tua. Formasi bintang yang
aktif berada di bagian cakram
karena disana gas dan debu
lebih terkonsentrasi. Kita tahu
bahwa gas dan debu adalah
komponen utama yang
membentuk formasi bintang.
Pengamatan melalui teleskop
modern telah menyingkapkan
bahwa banyak galaksi spiral
yang memiliki lubang hitam
supermasif dengan massa
miliaran kali massa matahari
pada bagian pusatnya. Baik
galaksi spiral maupun eliptik
diketahui mengandung objek
eksotis ini. Pada kenyataannya,
kebanyakan astronom masa kini
percaya bahwa semua galaksi
besar memiliki lubang hitam
supermasif pada intinya. Lubang
hitam pada inti galaksi Bimasakti
sendiri diketahui memiliki massa
jutaan kali massa sebuah
bintang.